Coreng Identitas Pulau Seribu Masjid || Tokoh Perempuan Sayangkan Ada Lomba Erotis di Fornas VIII NTB Tahun 2025

Senin, 28 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PRAYAPOST.COM – Lomba Binaraga dan Fisik Indonesia pada ajang Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) ke VIII tahun 2025 yang bertempat di Nusa Tenggara Barat (NTB) menuai sorotan publik.

 

Hal itu bermula dari beredarnya sejumlah video lomba binaraga yang menampilkan sejumlau perempuan berpakaian erotis pada Senin (28/7/2025). Diketahui, lomba binaraga untuk Inorga Perbafi digelar di Raja Hotel, Mandalika, Lombok Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Lomba tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak. Salah satunya, datang dari Pimpinan Pondok Pesantren di NTB.

 

“Saya atas nama forum Pondok Pesantren tidak setuju lomba-lombar belombas yang tisak sesuai dengan identitas Lombok yang dikenal dengan 1000 masjid dan pada umumnya di NTB lebih dari 3000-an pondok-pondok pesantren merusak citra,” kata Anggota Forum Pondok Pesantren, Hj Masruri Aini.

Baca Juga :  Terindikasi Melakukan Pencurian Suara || Nanang Samodra Datangi Bawaslu Lobar.

 

Mantan Wakil Ketua DPRD Lombok Timur itu menjelaskan, NTB dikenal luas sebagai Pulau Seribu Masjid—sebuah julukan yang tidak hanya menggambarkan banyaknya rumah ibadah, tetapi juga merepresentasikan karakter masyarakatnya yang religius, menjunjung nilai kesopanan, dan menjadikan etika sebagai fondasi dalam ruang publik.

 

Di tengah identitas kolektif tersebut, pelaksanaan lomba binaraga perempuan di Fornas yang menonjolkan sisi erotis patut dikritisi secara serius, tidak hanya dari sudut olahraga, tetapi juga dari perspektif budaya, moral, dan kehormatan sosial.

 

Lomba binaraga sejatinya adalah ajang untuk mengapresiasi ketekunan dan kedisiplinan dalam membentuk fisik. Namun, ketika ajang tersebut mengarah pada eksploitasi tubuh perempuan dengan kostum super minim, pose-pose sensual, serta sorotan visual yang menjurus pada erotisasi, maka esensi sportivitas itu memudar dan tergantikan oleh unsur komersialisasi tubuh.

 

“Di NTB, yang kental dengan nilai-nilai religius, hal semacam ini bukan hanya memicu kontroversi, tetapi juga mengusik kesadaran kolektif tentang batas antara prestasi dan eksploitasi,” bebernya.

Baca Juga :  Operasi Ketupat Rinjani 2026|| Polres Lombok Tengah Dirikan Lima Pos dan Libatkan 625 Personel

 

“Tak bisa diabaikan bahwa ruang publik di NTB berada dalam kerangka norma sosial yang berakar kuat pada nilai Islam dan kearifan lokal. Tubuh perempuan yang dijadikan objek tontonan di panggung lomba bukan hanya berpotensi mengabaikan etika visual, tetapi juga mencederai rasa hormat masyarakat terhadap martabat perempuan,” paparnya.

 

Alih-alih memberdayakan, lomba semacam ini justru berpotensi menjerumuskan perempuan ke dalam ruang yang menormalisasi pemajangan tubuh sebagai instrumen hiburan yang dibalut kompetisi.

 

Lebih jauh, pelaksanaan lomba binaraga erotis di NTB juga menimbulkan pertanyaan fundamental: apakah kita sedang membangun prestasi, atau tengah melemahkan identitas? Di tanah yang identik dengan spiritualitas dan moral kolektif, setiap acara publik seharusnya tunduk pada sensitivitas sosial dan kultural, bukan semata pada standar global yang seringkali tidak kontekstual.

Baca Juga :  FPTI NTB Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir || Komit Terus Hadir Untuk Masyarakat

 

“Ketika nilai-nilai lokal dikesampingkan atas nama modernitas atau hiburan, maka kita bukan sedang memajukan daerah, tetapi justru sedang mengikis akar kepribadian kolektifnya.

Kritik ini bukan bentuk pelarangan terhadap partisipasi perempuan dalam olahraga, tetapi ajakan untuk menempatkan kehormatan perempuan dan identitas daerah dalam posisi utama,” jelasnya.

 

Ada cara yang lebih bermartabat untuk menunjukkan kekuatan, dedikasi, dan pencapaian fisik, tanpa harus menggadaikan nilai estetika dan moral. Apalagi di NTB, di mana masjid-masjid berdiri di tiap sudut desa, dan suara azan menyatu dengan denyut kehidupan sehari-hari.

 

Sudah saatnya panitia dan pemangku kebijakan lebih bijak dalam menyaring jenis kegiatan yang digelar di ruang publik. Panggung olahraga harus jadi medan prestasi, bukan arena kompromi terhadap nilai dan martabat.

POST TERKAIT

Dinkes Lombok Tengah Bagikan 1.000 Masker untuk Warga dan Petugas Pascakebakaran Kampung Adat Sade
Target 145 Ribu Penonton & Gerakkan Ekonomi, Persiapan MotoGP Mandalika Terus Dipercepat
Poltekpar Lombok Disiagakan Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Lombok
Aset Jadi Prioritas Kejari Lombok Tengah, Pencegahan Diperkuat, Penindakan Siap Dilakukan
Ketua Komisi IV DPR RI Dorong Penguatan Produksi Bawang Putih untuk Kurangi Impor
Polri Dorong Percepatan Swasembada Bawang Putih, Tanam Serentak dan Panen Raya di Sembalun
Panitia Pilkades Labulia Tetapkan 9.068 DPT Secara Terbuka
Pilkades Serentak 2026, Pengadaan Logistik Kini Dikelola Panitia Desa
Berita ini 61 kali dibaca

POST TERKAIT

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:34 WITA

Dinkes Lombok Tengah Bagikan 1.000 Masker untuk Warga dan Petugas Pascakebakaran Kampung Adat Sade

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:42 WITA

Target 145 Ribu Penonton & Gerakkan Ekonomi, Persiapan MotoGP Mandalika Terus Dipercepat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Poltekpar Lombok Disiagakan Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Lombok

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Aset Jadi Prioritas Kejari Lombok Tengah, Pencegahan Diperkuat, Penindakan Siap Dilakukan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 05:37 WITA

Ketua Komisi IV DPR RI Dorong Penguatan Produksi Bawang Putih untuk Kurangi Impor

POST BARU