Sedih… diangkat dari kisah nyata “Lisan Kepada Tulisan” || Yang Baca Dijamin Mewek.

Jumat, 9 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

PRAYAPOST.COM Cerpen – AKU adalah pameran utama yang berperan dalam kisah klasik ini. Ku susun apik kisah ini, kisah yang mungkin nanti orang berkata seaakan aku menceritakan nasibku

sendiri. Tak pernah terbayangkan kisah antara Zainuddin-Hayati dalam  Tenggelamnya kapan Van Der Wijck  serta kisah antara Hamid-Zainab dalam dibawah lindungan Ka’bah kini seakan  menjadi nyata dalam hidupku, Dua novel karangan Buya Hamka yang dari zaman aku SMP sangat ku segani  seakan membawaku turut merasakan uraian air mata para tokoh dalam mempertahankan hak mereka, hak untuk saling mencintai.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Januari 2017. Seaakan menjadi waktu yang sekaligus mengubah alur ceritahidupku. Sontak duniaku hancur.Aku bagaikan dedaunan yg diterbangkan angin, tak tentu arah,hanya bisa mengikuti kemana arah angin membawaku. Harapanku menjadi sebuah bencana yang terasa mencambuk, air mata pun berurai ketika berulang kali ucapan terlontar dari salah seorang keluarga yang dari awal memang tak pernah berempati kepadaku, ucapan yang bukan lagi sebuah lelucon, bukan juga melodi yang menenangkan hati, melainkan sepenggal kalimat yang merobek hati dan perasaan.

 

Hingga akhirnya rasa sakit dan perih menyatu dalam hati yang akhirnya mencoba untuk tetap tenang dan tegar,berharap semua kejadian itu hanyalah sebuah mimpi, namun apa daya semua itu benar-benar nyata.

 

Pagi masih diselimuti kabut berwarna putih. Jalanan pun belum begitu ramai, namun suara-suara bising dari kejauhan kian menyambut pagiku, terlalu banyak hal menyakitkan yang ku dengar selama ini, seolah mereka memiliki hak untuk menghakimi kehidupan seseorang, mereka cenderung mempercayai tanpa mendengar penjelasan. Bukankah semua orang berhak atas hidup dan kehidupannya? Lalu kenapa mereka seaakan membatasi kehidupan orang lain? Mereka selalu merasa benar, tak pernah sedikitpun menerima alasanku, Lantas, apa yang harus kukatakan? Mereka seaakan sangat paham luar dalam kehidupan seseorang, yah paham sekali!! seakan mereka memiliki catatan malaikat Raqib dan Atid. Namun mereka tak pernah tau bagaimana aku dan dia memperjuangkan semua ini. Bagaimana dulu hati kami menyatu memulai perjalanan panjang ini, bagaimana kami yang selalu sabar menunggu dengan setia.Sungguh tak ada yang bisa merasakan!!

 

 

Terlalu banyak hal negative yang ku dengar. Hati yang semula bergejolak kemudian terpaku pada aku yang sedari awal tak ingin mengeluarkan sepatah katapun meski mereka menghujamku dengan beribu pernyataan.Aku menunduk, hanya air mata yang bisa mewakilkan perasaanku saat itu.Hingga akhirnya ucapan kasarpun terlontar dari sosok yang selama ini ku idolakan,ucapan yang tak pernah ku bayangkan akan terucap dari sosok pahlawanku,ucapan yang sekaligus melukaiku dalam, menyayatku dengan tega seakan aku hanyalah sosok kecil yang belum mampu berjalan dan belum mengerti makna dari sebuah perjalanan. “Katakan sesuatu, jangan diam!”bentaknya. Kemudian semua kata melucur dari mulut hinaku tanpa terencana, bermaksud membela diri, namun ternyata semua percuma…..Mungkin saja mereka sudah terhipnotis oleh orang-orang yang selama ini hanya melihat satu titik hitam dalam selembar kertas putih, yaa hanya melihat sebuah noda.

Baca Juga :  Perkuat Swasembada Pangan, Wakapolda NTB Pimpin Rakor Evaluasi Sentra Pertanian Jagung

 

teramat sangat kecil, lalu seakan merka berhak menyimpulkan. Dan orang-orangitu bagiku adalah orang yang sokpeduli. Orang-orang yang tak berprasaan yang mengoyak dan menyalahgunakan kepercayaan. Bahkan mereka mungkin lupa bahwa aku juga mahluk yang berprasaan.

 

Bukankah aku sudah cukup dewasa untuk melihat, menilai dan menentukan segala sesuatu yang terbaik untukku. Yaaaa, memang dia tidak sempurna, begitupun aku, sama saja.Lalu apa bedanya? Kami hanya berusaha saling menerima, kami bicara, bercerita berbagi tentang rasa yang pada akhirnya segalanya baik-baik saja.

 

Sudahlah!!!!! Kulepaskan segala prasangka, kuterbangkan seluruh kata-kata yang belum sempat terucap. Biarlah kupendam dalam-dalam semua kesakitan ini sendiri, segala tentangku sudah tidak penting lagi.

 

Gelap malam merenggut indahnya senja, begitu juga denganku, rasa sakit yang tak tertahankan seaakan merenggut kebahagiaanku.Aku menatap hidupku dalam,menghirup nafaspanjang kemudian menghembuskannya perlahan.arrghkadang hidup memang seperti ini,selalu tak pernah memberi apayang kita harapkan.Tak pernah sekalipun adil!!Akusempatmengurung diri, meratapi nasib karena menghadapi semuanya sendiri. Setiap hari aku habiskan hari-hariku dengan hal yang sama, menghabiskan setiap tetes air mata yang masih tersisa di pelupuk mataku. Perasaan sepi semakin menjadi benalu yang bersarang dihatiku, namun apa yang harus kulakukan? haruskah aku merelakan diri?Haruskah ku korbankan perjalanan panjang yang selama iniaku perjuangkan? Haruskah ku biarkan semua cerita ini berserakan? Lalubagaimana jika aku menyukainya? Jika aku nyaman dengannya? pun jika dia pemberian terbaik dariNya?

 

sungguh tak benar-benar ingin merasakan bagaimana sedih dan hancurnya aku ketika dipaksa untuk mengorbankan perasaan dan kebahagiaan yang ku impikan.

 

Akupun sudah tidak mampu untuk mengenggam hati siapapun, apalagi meminta belas kasih untuk sekedar iba pada masalah yang ku hadapi. Biarkan semua skenario ini menjadi rahasia langit, aku begitu letihwahai Tuhan, tidurkan aku sekejap hingga semua rasa sakit ini lenyap.

Baca Juga :  Cek Kelengkapan Dokumen Kendaraan, Kodim Loteng Gelar Operasi Dadakan

Pagi itu matahari indah melaksanakan kewajibannya menerangi dunia dengan senyumnya yang menawan, namun tidak bagiku.Selepas shalat dhuha akupun bergegas berangkat, tanpa arah dan tujuan aku mengendarai sepeda motorkuhingga akhirnya aku menghentikannya dipinggir jalan, ketika itu aku hampir ditabrak oleh mobil yang melaju kencang tepat didepanku.Tubuhku teramat lemas namun aku tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalananku, tak henti-hentinya aku menangis memohon kepada sang Illahi untuk sedikit saja merangkulku.

 

Hingga akhirnyaaku sampai di suatu tempat, sebuah tempat yang kujadikan pelarian bagiku, sebuah tempat untuk kembali menemukan ketenangan. Rumah tak berpenghuniitupunmenyambut kedatanganku.Ku coba melupakan sejenak apa yang tengah aku hadapi beberapa hari kemarin, berbaur dengan teman-teman yang mungkinsajabisa membuatku bahagia, namun, tak adasatupunyang mampu melakukannya,meskipun merekatelah berusaha menghiburku. Air mata pun menetes dengan sendirinya. Bagaimana mungkin aku bisa

tersenyum manis sementara keikhlasan untuk menerima semua kepahitan ini belum tertanam dalam hatiku?

Hiruk pikuk tangisanpun kian terdendangkan, namun mau bagaimana lagi?Semua sudah jadi suratan hidupku.Kebersamaan yang pernah aku pintal bersamanya, potongan-potongan cerita yang pernah kami buat, genggaman tangan yang semakin hari makin erat, tawa yang semakin renyah, tatapan mata yang seakan berbicara betapa cinta itu sudah tumbuh dengan subur dan semua hal konyol lainnya yang pernah aku lakukan dengannya haruskah aku buang mentah-mentah? Bukannya aku ingin menyimpang, namun keadaan yang tak mengizinkan aku untuk mengambil jalan lurus yang seperti mereka kehendaki. Aku menghargai seutuhnya keinginan mereka, namun sungguh aku tak mau mati konyol seperti halnya Zainuddin dan Hayati yang hingga akhir hayat harus menderita karena kungkungan adat masyarakat Minangkabaupada waktu itu,begitu juga dengan Hamid dan Hayati yang kedua-duanya pergi menghadap sang Esa tanpa sempat menampakkan keinginan mereka..

 

 

Entahlah, Rasa sesak ini semakin menjadi, dunia seakan enggan memberiku pilihan yang bijak.Aku seaakan mendayung perahu nasib dan tersesat dipersimpangan takdir yang lagi-lagi membuatku tak berdaya. Namun, akupun tak ingin hanya berdiam seperti ini, semuanya sungguh terasa menyiksa, telah kucoba melewati malam dan aku kembali terdekap dalam ketidakberdayaanku untukmemilih.Ya Allah,, Kehidupansepertiapakah yangtelah engkau berikan sehingga aku tak mampu lagi menahan bendungan air mataku??sungguh melelahkan ketika aku tidak bisa membagi masalah-masalah paling berat dalam hidupku, namun aku selalu percaya bahwa akanselalu ada yang mendengar rintihan hatiku. Jika aku benar-benar menginginkannya, maka aku hanya bisa

Baca Juga :  YGSI Bersama Pemda Loteng Gelar Sosialisasi Perda Tentang Perlindungan Perempuan dan Anak.

 

meminta dengan kesungguhan. Terbangun disepertiga malam, mengharap kepada sang langit dengan doa-doa….. yah, sebuah filosofi yang dapat ku pegang saat ini, Tuhan tidak pernah tidur.Puluhan hari sudah aku lewati sejak peristiwa menyakitkan itu. Tak banyak yang berubah dari perjalanan setiap hariku. Aku masih bisa merasakan aliran oksigen dalam darahku. Aku mulai bisa melihat senyum lebarku didepan kaca, meski mungkin hanya sebuah kepura-puraan. Aku tetap tak ingin kehilangan pompa semangatku. Aku tetap dan selalu mencoba ‘merasa’ baik-baik saja. Hari demi hari terlewati pada pagi dan senja yang terus bergulir seiring berjalannya waktu. Kini kuputuskan untuk mengambil sikap. 14-04-2017 kekuatan cinta.

 

memang tak mampu pisahkan kami, akupunmulai menulis setiap halaman-halaman cerita dalam hidupku, mulai menjalani kehidupan ini dengan caraku, cara yang mungkin menyakiti hati banyak orang.Namunbagiku, hidupku bukanlah senja yang kan berkesudahan, meski air mata kian tertatih, meski derita silih berganti, meski tantangan dan rintangan bagaikan gelombang yang menghadang, aku takkan pernah goyahmerebut kembali bahagiaku.Aku tak ingin selamanya membiarkan hatiku terluka, sungguh aku tak ingin untuk tidak adil dengan hidupku.Aku akan terus bergerak maju karena seperti yang sering dia bisikkan padaku, ada langit yang tak berujung diluar sana, teruslah berjalan maju…..Ah Seandainya mereka sedikitlebihbijak menghadapi ini, sedikit saja menerima ketika pilihanku tidak sesuai dengan apayang mereka harapkan.

 

Kebersamaan yang kami lewati membuatku sangat bersyukur memilikinya. Keputusanku menerima pinangannya adalah sebuah hal yang tak pernah aku sesali. Tak mudah bagiku untuk berpindah hati, kesungguhannya membuat keyakinanku semakin kuat. Aku kian terbuai, hingga tak ada hal lain yang aku inginkan dalam hidup selain menjadi kekasih halalnya dan menemaninya hingga helaan nafas terakhirku. Apakah aku merasa bahagia? Yah sangat bahagia, dan aku tetap berharap semoga kebahagiaan ini akan terus berlanjut seperti bumi yang tidak pernah berhenti mengitari matahari.Kini, bersama cintanyayang menguat, kupun mulai mengerti arti kehidupan yang silih berganti.Hatiku sudah ku pastikan untuk selalu tertaut padanya. Terima kasih Tuhan atassekian mimpi yang telah mewujud nyata.

 

#Persembahan

Untukmu “CINTAKU” lelaki yang akan menghabiskan waktu bersamaku…aku ingin menunjukkan betapa aku sangat mencintaimu, meski mungkin aku tak bisa mengungkapkannya dengan tepat seperti yang kamu inginkan.

 

Penulis : Rihend

Editor   : Andi mardinata

 

 

 

 

POST TERKAIT

Dinkes Lombok Tengah Bagikan 1.000 Masker untuk Warga dan Petugas Pascakebakaran Kampung Adat Sade
Target 145 Ribu Penonton & Gerakkan Ekonomi, Persiapan MotoGP Mandalika Terus Dipercepat
Poltekpar Lombok Disiagakan Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Lombok
Aset Jadi Prioritas Kejari Lombok Tengah, Pencegahan Diperkuat, Penindakan Siap Dilakukan
Ketua Komisi IV DPR RI Dorong Penguatan Produksi Bawang Putih untuk Kurangi Impor
Polri Dorong Percepatan Swasembada Bawang Putih, Tanam Serentak dan Panen Raya di Sembalun
Panitia Pilkades Labulia Tetapkan 9.068 DPT Secara Terbuka
Pilkades Serentak 2026, Pengadaan Logistik Kini Dikelola Panitia Desa
Berita ini 126 kali dibaca

POST TERKAIT

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:34 WITA

Dinkes Lombok Tengah Bagikan 1.000 Masker untuk Warga dan Petugas Pascakebakaran Kampung Adat Sade

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:42 WITA

Target 145 Ribu Penonton & Gerakkan Ekonomi, Persiapan MotoGP Mandalika Terus Dipercepat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Poltekpar Lombok Disiagakan Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Lombok

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Aset Jadi Prioritas Kejari Lombok Tengah, Pencegahan Diperkuat, Penindakan Siap Dilakukan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 05:37 WITA

Ketua Komisi IV DPR RI Dorong Penguatan Produksi Bawang Putih untuk Kurangi Impor

POST BARU