PRAYAPOST.COM – Kepala Sekolah SMAN 1 Jonggat Lombok Tengah NTB, Kamis 30 Nopember 2023, mengundang para wali murid yang anaknya terlibat dalam aksi dugaan pengeroyokan yang terjadi pada perayaan Hari Guru Nasional (HGN) yang digelar sekolah tersebut beberapa waktu lalu.
Namun, saat mediasi dilakukan dan para wali murid hadir, kepala sekolah yang telah memberikan undangan secara resmi, sesuai surat nomor: 421.3/304/SMAN.JGT/2023 yang ditandatangani langsung oleh kepala sekolah dan guru BK, malah tidak hadir saat kegiatan mediasi.
Proses mediasi akhirnya dilakukan oleh Wakil Kepala (Waka) Sekolah Bidang Kurikulum, Muhamad Fadli yang bertempat di Ruang Bimbingan Konseling (BK) sekolah tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada saat mediasi berlangsung, tak ada kesepakatan yang diperoleh. Para wali murid yang anaknya diduga melakukan pengeroyokan, sempat meminta maaf kepada wali murid korban pengeroyokan. Dan karena tidak ada kata sepakat, pihak sekolah-pun mengembalikan keputusan kepada orang tua korban.
Kepada Wartawan, Muhamad Fadli mengatakan, kalau kejadian pengeroyokan yang dilakukan siswanya tersebut terjadi diluar sekolah. Karena waktu kejadian pihak sekolah sedang menyelenggarakan acara HGN hingga pukul 17:15 wita.
Namun demikian, pihak sekolah telah melakukan tindakan tegas atas persoalan tersebut, hingga memberhentikan salah satu dari 6 orang terduga pelaku. Sementara 5 lainya diberikan sangsi berupa sekorsing beberapa hari.
Saat ditanya wartawan, alasan pihak sekolah mengeluarkan satu orang dan lima orang lainnya hanya diberi sangsi sekorsing , Muhamad Fadli malah enggan menjawab dan langsung mengusir wartawan.
“Silahkan keluar! Kapasitas anda di sini sebagai apa?”ujar Wakasek Bidang Kurikulum ini sembari ngacir meninggalkan wartawan yang mewawancarainya usai mediasi dilakukan.
Untung insiden itu tidak berlanjut, karena salah seorang guru yang tidak mau disebutkan namanya, datang dan meminta maaf atas kejadian tersebut.
“Mohon maaf pak, beliau tampaknya sedang kesal, lantaran permasalahan ini dilimpahkan kepadanya yang bukan tupoksinya,”ujar guru tersebut.
“Disaat ada permasalahan seperti ini, kepala sekolah, waka kesiswaan dan guru BK pada tidak masuk. Seolah-olah mau melepas tanggung jawab,”imbuh guru ini.
Karena mediasi tak membuahkan hasil, pihak keluarga korban memutuskan akan terus melakukan proses hukum atas apa yang menimpa anaknya.
“Secara kemanusiaan, saya sudah memaafkan. Namun, proses hukum akan terus saya lanjutkan, karena saat ini saya masih belum bisa menerima anak saya dipukuli dan ditendang oleh enam orang,”kata Orang Tua Korban, Edi Sumaatmaja.
Akibat perbuatan para pelaku, putranya lanjut Edi sempat dibawa ke RS karena sesak napas dan muntah-muntah setelah peristiwa tersebut. Belum lagi trauma yang kini menghantuinya, entah seumur hidupanya.






















