Tradisi Pekendeng Api Kembali Bersinar di Festival Begawe Jelo Nyesek Sukarare 2026

Selasa, 7 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

PRAYAPOST.COM– Malam puncak Festival Begawe Jelo Nyesek Sukarare 2026 berlangsung meriah dengan menampilkan berbagai atraksi budaya khas Sasak yang kini mulai langka. Ribuan masyarakat memadati lokasi festival untuk menyaksikan Tari Gandrung, Pepaosan, atraksi Ngendang, Pekendeng Banget, hingga Pekendeng Api yang menjadi daya tarik utama pada perhelatan budaya tersebut.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tradisi Pekendeng Banget dan Pekendeng Api merupakan warisan budaya yang saat ini hanya masih dapat dijumpai di sejumlah wilayah selatan Pulau Lombok. Melalui festival ini, tradisi yang sempat tenggelam kembali diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

 

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Lombok Tengah,Dr.HM. Nursiah, S.sos.,M.Si , serta Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Muhamad Atta atau yang akrab disapa Bajang Atta. Kehadiran keduanya semakin menambah antusiasme masyarakat yang memadati lokasi acara.

 

Baca Juga :  Polsek Prabarda Tutup Tambang Emas Ilegal di Gunung Kongbawi.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati HM Nursiah menegaskan bahwa tradisi-tradisi unik seperti Pekendeng Banget dan Pekendeng Api harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak.

 

“Atraksi budaya seperti ini harus kita lestarikan dan angkat kembali. Selain menjadi identitas budaya daerah, tradisi ini juga merupakan kekayaan yang mampu menarik minat wisatawan untuk datang ke Lombok Tengah,” ujarnya.

 

Menurutnya, Festival Begawe Jelo Nyesek tidak hanya menjadi ajang hiburan masyarakat, tetapi juga sarana edukasi dan literasi budaya bagi generasi milenial dan Gen Z yang mulai kurang mengenal warisan budaya leluhurnya akibat derasnya pengaruh budaya modern.

 

Lebih jauh, HM Nursiah berharap penyelenggaraan festival tahunan tersebut mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Ia meminta Pemerintah Desa Sukarare mulai melakukan pendataan terhadap nilai transaksi ekonomi yang terjadi selama festival berlangsung.

 

“Ke depan, Pemerintah Desa Sukarare harus mampu mengidentifikasi berapa besar transaksi yang terjadi selama event berlangsung, baik dari pelaku UMKM tenun maupun pelaku usaha lainnya. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari festival ini dapat diukur secara jelas,” katanya.

Baca Juga :  Keberlanjutan Program Satu Telur Sehari, Alfamart Perluas Jangkauan ke 39 Kota pada 2026

 

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Muhammad Atta atau yang akrab di sapa Bajang Atta, menilai tingginya jumlah pengunjung menjadi indikator bahwa festival budaya memiliki potensi besar dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.

 

“Kalau melihat antusiasme masyarakat sebanyak ini, tentu dampak ekonominya juga harus terasa. Bahkan dari side event saja mampu menghadirkan massa dalam jumlah besar. Artinya, produk UMKM lebih banyak terjual, jasa parkir memperoleh manfaat, hingga pelaku usaha kecil lainnya ikut merasakan dampaknya,” ujar Bajang Atta.

 

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Sukarare, Syamsul Bahri, mengapresiasi kehadiran Wakil Bupati dan Kepala Dinas Pariwisata pada malam puncak festival. Menurutnya, dukungan pemerintah menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk terus mengembangkan Festival Begawe Jelo Nyesek agar semakin berkualitas dan menjadi agenda budaya unggulan Lombok Tengah.

Baca Juga :  Santri Tidak Lanjutkan Sekolah di Tempat Ijazah Ditahan || Ponpes Ini Diduga Pungli Dengan Dalih Denda

 

“Harapan kami, festival ini tidak hanya menjadi hiburan dan promosi pariwisata, tetapi juga benar-benar memberikan dampak ekonomi yang terukur bagi masyarakat Desa Sukarare,” kata Syamsul.

 

Festival Begawe Jelo Nyesek dinilai layak menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Lombok Tengah untuk mengangkat kembali tradisi dan kearifan lokal yang mulai terlupakan. Setiap desa memiliki kekayaan budaya yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata berbasis masyarakat.

 

Selain menjaga kelestarian budaya, pengembangan festival berbasis kearifan lokal diyakini mampu memperkaya destinasi wisata Lombok Tengah, meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal (length of stay) wisatawan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah secara berkelanjutan.

 

 

 

 

 

POST TERKAIT

Dinkes Lombok Tengah Bagikan 1.000 Masker untuk Warga dan Petugas Pascakebakaran Kampung Adat Sade
Target 145 Ribu Penonton & Gerakkan Ekonomi, Persiapan MotoGP Mandalika Terus Dipercepat
Poltekpar Lombok Disiagakan Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Lombok
Aset Jadi Prioritas Kejari Lombok Tengah, Pencegahan Diperkuat, Penindakan Siap Dilakukan
Ketua Komisi IV DPR RI Dorong Penguatan Produksi Bawang Putih untuk Kurangi Impor
Polri Dorong Percepatan Swasembada Bawang Putih, Tanam Serentak dan Panen Raya di Sembalun
Panitia Pilkades Labulia Tetapkan 9.068 DPT Secara Terbuka
Pilkades Serentak 2026, Pengadaan Logistik Kini Dikelola Panitia Desa
Berita ini 51 kali dibaca

POST TERKAIT

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:34 WITA

Dinkes Lombok Tengah Bagikan 1.000 Masker untuk Warga dan Petugas Pascakebakaran Kampung Adat Sade

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:42 WITA

Target 145 Ribu Penonton & Gerakkan Ekonomi, Persiapan MotoGP Mandalika Terus Dipercepat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Poltekpar Lombok Disiagakan Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Lombok

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Aset Jadi Prioritas Kejari Lombok Tengah, Pencegahan Diperkuat, Penindakan Siap Dilakukan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 05:37 WITA

Ketua Komisi IV DPR RI Dorong Penguatan Produksi Bawang Putih untuk Kurangi Impor

POST BARU